Science

7 Fenomena Astronomi di Minggu Kedua November

Techdaily.ID – Bulan November kali ini tampaknya kita akan melihat beberapa fenomena langit yang sangat sayang untuk dilewatkan. Dilansir dari laman Instagram Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (@lapan_ri) membagikan 7 fenomena astronomi yang akan terjadi di minggu kedua November.

BACA JUGA
Spesifikasi Infinix Hot 10, Ponsel Gaming Harga Sejutaan

Adapun 7 fenomena astronomi di minggu kedua November, yaitu:

  1. Fase Perbani Akhir (9 November)

Puncak fase perbani akhir telah terjadi pada 8 November 2020 lalu. Saat itu Bulan berjarak 381.175 km dari Bumi dan terletak pada konstelasi Cancer.

Bulan akan terbit setelah tengah malam pada 9 November dari arah Timur-Timur Laut. Kemudian berkulminasi di arah Utara ketika terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat- Barat Laut setelah tengah hari.

  1. Merkurius Paling Terang (11 November)

Eelongasi barat maksimum Merkurius baru dapat disaksikan keesokan paginya sejak Merkurius terbit pukul 04.15 WIB dekat konstelasi Virgo di arah Selatan- Tenggara dan akan berada pada ketinggian 15,7 derajat ketika Matahari terbit pada pukul 05.20 WIB.

Sudut elongasi Merkurius-Matahari sebesar 19,1 derajat dengan magnitudo visual -0,6 membuat Merkurius tampak paling terang dibandingkan hari-hari lainnya.

  1. Puncah Meteor Taurid (11-12 November)

Hujan Meteor Taurid Utara berasal dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,3 tahun sebagaimana komet Encke yang merupakan objek induk hujan meteor Taurid selatan.

Hujan meteor ini aktif sejak 20 Oktober hingga 10 Desember, sedangkan puncaknya terjadi pada 12 November 2020 sekitar tengah malam.

  1. Kuartet Bulan-Venus- Spica-Merkurius (12-14 November)

Dari ketiga benda langit ini akan mengalami kuartet dengan Bulan berfase sabit akhir selama tiga hari sejak tanggal 12 hingga 14 November. Peristiwa ini dapat diamati sejak pukul 04.45 WIB dari arah Timur.

BACA JUGA
Apakah Astronot Butuh Sunblock di Luar Angkasa?

Pastikan cuaca cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

  1. Kenampakan Terakhir Bulan Sabit Tua

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 14 November 2020 sejak pukul 05.00 WIB hingga Matahari terbit (5.30 WIB). Jarak toposentris sejauh 356.587 km, iluminasi 2,60 persen dan lebar sudut 0,87 menit busur.

Bulan sabit tua kali ini berumur 28 hari 2,85 jam, elongasi 18,9 derajat dan terbit dari arah Timur di konstelasi Virgo.

  1. Perige Bulan (14 November)

Peroge merupakan suatu kondisi dimana jarak Bulan akan berada pada titik terdekat Bumi. Pada pukul 18.37.03 WIB dengan jarak 357.833 km, iluminasi 0,89 persen (fase sabit akhir) dan lebar sudut 0,30 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Libra ketika perige, akan tetapi tidak dapat disaksikan karena Bulan sudah terbenam lebih dahulu dibandingkan Matahari dan cahaya Bulan sangat tipis.

  1. Penampilan Bulan Sabit Muda (15 November)

Bulan sabit muda dapat disaksikan pertama kali dengan alat bantu optik maupun mata telanjang pada tanggal 16 November sejak terbenam Matahari (17.47 WIB) hingga 19 WIB ketika Bulan terbenam.

BACA JUGA
NASA Merinci Eksperimen Sainsnya Untuk Bulan

Bulan sabit muda kali ini berumur 29,7 jam, elongasi 16, 35 derajat dan terbenam dari arah Barat-Barat Daya di konstelasi Ophiuchus.

Demikianlah 7 fenomena astronomi di Minggu kedua November 2020. Jangan sampai ada yang kelewat ya. (ran)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close